Pentingnya Kesehatan Mental bagi Generasi Z
Generasi Z merupakan istilah bagi orang-orang yang tahun kelahirannya
antara 1998 dan 2010. Dengan kata lain, Generasi Z (selanjutnya saya sebut Gen
Z) adalah sebutan bagi orang-orang muda saat ini, yaitu mereka yang berusia 10
hingga 22 tahun.
Sumber: Freepik (Pinterest)
Benar, sebagian dari mereka masih atau baru menginjak masa-masa remaja, di mana kondisi lingkungan dan bagaimana perlakuan yang mereka dapatkan dari lingkungan sekitar mereka dapat memengaruhi pembentukan mental mereka. Ini merupakan hal yang cukup penting bagi masa depan Gen Z. Jika Gen Z memiliki mental yang sehat dan kuat, maka kita boleh berharap Indonesia sudah menjadi negara maju pada tahun 2045 nanti. Mengapa? Karena kondisi mental seseorang adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan seseorang, entah itu anak-anak ataupun dewasa. Ketika seseorang memiliki mental yang sehat dan kuat, maka ia bisa menjalani kehidupan dengan baik, ia memiliki gairah hidup yang akan memompa seseorang untuk berkarya lebih lagi. Tentunya ia bisa membanggakan Indonesia dengan karya-nya tersebut.
Sumber: Freepik (Pinterest)
Sayangnya, masih banyak orang yang mengabaikan kesehatan mental sejak dini. Mirisnya, orang tualah yang terkadang paling banyak memberikan tekanan kepada anak-anaknya sehingga dapat mengakibatkan gangguan mental pada anak, yang merupakan Gen Z. Tidak hanya berpengaruh kepada sikap seseorang, kesehatan mental juga berpengaruh besar pada kesehatan fisik. Ketika seseorang mengalami gangguan mental, maka kehidupannya bisa menjadi sangat rusak. Gangguan mental dapat menyebabkan stres dalam hidup atau gangguan untuk beraktivitas rutin di tempat kerja, sekolah, atau situasi sosial lainnya.
Mengutip dari website hellosehat, berikut adalah ciri-ciri orang yang
memiliki gangguan mental:
1. Kepercayaan diri yang rendah
Orang dengan
gangguan kepribadian biasanya memiliki kepercayaan diri yang rendah. Akibatnya,
mereka sering kali mengungkapkan pikiran atau perasaan mereka melalui amarah.
Selain itu, orang dengan kepercayaan diri yang rendah juga sangat bergantung
pada pujian dan persetujuan orang lain untuk menemukan jati diri mereka.
2. Cemas berlebihan
Rasa cemas tentu
dimiliki oleh setiap orang, namun pada orang yang memiliki gangguan
kepribadian, rasa cemas sangat melelahkan karena disertai dengan perasaan
gugup, tegang, dan panik. Akibatnya, perasaan tersebut membuatnya lebih
sensitif terhadap tindakan orang lain.
3. Bersikap paranoid
Setiap orang
memiliki sikap paranoidnya masing-masing, namun orang dengan gangguan
kepribadian, biasanya cenderung memiliki sikap paranoid yang berlebihan.
4. Suka menyendiri
Lagi-lagi, adalah
hal yang normal jika seseorang butuh waktu untuk sendiri. Namun, orang dengan
gangguan kepribadian biasanya cenderung menyukai kesendirian. Salah satu tanda
tersebut juga dimiliki oleh penderita gangguan kepribadian skizofrenia. Menurut
Mayo Clinic, skizofrenia ditandai dengan kurangnya minat dalam hubungan sosial
atau pribadi. Seseorang dengan gangguan tersebut mungkin lebih suka menyendiri,
dan mereka mungkin bahkan tidak memiliki kemampuan untuk merasakan kesenangan
dalam sebagian besar kegiatan. Sederhananya, mereka bersikap dingin dan acuh
tak acuh terhadap lingkungan sekitar.
5. Kaku dan perfeksionis
Memiliki teman yang
menyukai segala keteraturan adalah hal yang baik. Namun, jika mereka merasa
kesal atau marah ketika ada ketidakteraturan atau sesuatu yang rusak, itu bisa menjadi tanda
adanya gangguan obsesif-kompulsif, atau lebih dikenal dengan nama OCD
(obsessive-compulsive disorder). Obsesif-kompulsif adalah gejala gangguan
kepribadian yang mencakup perfeksionisme ekstrim, mengakibatkan disfungsi dan
kesusahan; keinginan untuk mengontrol orang lain; pengabaian teman dan kegiatan
yang menyenangkan karena komitmen untuk bekerja atau proyek; dan tidak
fleksibel tentang etika atau nilai-nilai.
6. Cenderung ingin menjadi pusat perhatian
Seseorang yang
kerap mencari perhatian dengan drama yang dibuatnya, bisa jadi merupakan tanda
seseorang tersebut memiliki gangguan kepribadian. Tanda-tanda lainnya adalah,
seseorang memiliki emosional yang berlebihan, bersikap dramatis, atau
provokatif hanya untuk mendapatkan perhatian; berbicara secara dramatis dengan
pendapat yang kuat; mudah dipengaruhi oleh orang lain; dangkal, cepat berubah
emosi; merasa sangat akrab dan dekat dengan teman-teman daripada kenyataannya;
dan perhatian yang berlebihan dengan penampilan fisik.
7. Selalu tampak kesal dan kewalahan
Biasanya, setiap
orang dengan gangguan kepribadian sering mengalami depresi, paranoid, dan
obsesif dari waktu ke waktu. Tentunya, hal tersebut merupakan hal yang
menyebalkan karena menyebabkan penderitaan yang luar biasa dan dapat membuat
terganggunya hubungan sosial seseorang.
Sumber: Freepik (Pinterest)
Setiap orang, tidak hanya Gen Z, perlu untuk menjaga kesehatan mentalnya.
Kendali yang paling besar ada di dalam diri kita msing-masing, karena itulah
kita harus memulainya dari diri kita terlebih dahulu. Mengutip dari website
SehatQ, beberapa langkah sederhana ini dapat diterapkan untuk meningkatkan
kualitas kesehatan mental, di antaranya adalah dengan mengatakan hal positif
pada diri sendiri, menuliskan hal yang patut disyukuri setiap hari, memilih seseorang
yang dapat dipercaya untuk mendengarkan keluh kesah kita, makan makanan yang sehat
dengan memperbanyak buah dan sayur, mengelola stres dengan baik, tidur yang
cukup, olahraga teratur dan melakukan hobi yang menyenangkan bagi diri kita masing-masing.
Sumber: Freepik (Pinterest)
Mengapa saya menyarankan untuk mengusahakan dari dalam diri terlebih
dahulu? Karena kita perlu untuk melawan keresahan itu, kita perlu melawan
ketakutan itu, kita lah yang seharusnya berusaha untuk menguatkan pribadi kita.
Dan juga, orang-orang sekitar kita belum tentu dapat dipercaya. Kuncinya, kita harus
terus berusaha dan berupaya sendiri, itulah bagaimana kita bisa menyayangi diri
kita sendiri, dan cara paling efektif dan cepat untuk meningkatkan kesehatan
mental kita.






Komentar
Posting Komentar